Skip to content

FAQ Fiqh Jual Beli Emas

November 5, 2009
tags: ,
by

1. Menggunakan Cek

Syekh Muhammad Shalih al ‘Utsaimin ditanya, “Bagaimana hukum mempergunakan cek dalam jual beli emas, jika dipergunakan sebagai pembayaran pada waktu penjualan, yakni sebagai pedagang emas hanya menerima pembayaran dengan cek karena khawatir akan keselamatan dirinya atau takut uangnya dicuri?”

Jawaban : Tidak dibolehkan mempergunakan cek dalam penjualan emas dan perak. Karena cek bukanlah alat pembayaran yang bisa diserahterimakan melainkan hanya sebagai jaminan pemindahan pembayaran saja. Dengan alasan bahwa orang yang menerima cek dan cek tersebut rusak atau hilang ditangannya, maka kepemilikannya tetap kembali kepada orang yang memberi cek, mesikupun tidak diserahkan, namun tidak dapat dimiliki. Penjelasan lebih mudahnya adalah apabila seseorang membeli emas dengan pembayaran uang dirham, setelah menyerahkan uang itu kepada penjual, uang tersebut hilang atau rusak ditangan penjual tersebut, maka bukan lagi menjadi tanggungan pembeli. Apabila penjual tersebut menerima cek tersebut rusak atau hilang, maka kewajiban pembayaran kembali kepada pembeli. Ini merupakan alasan mengapa cek tidak dapat diserahterimakan, dengan demikian jual beli yang dilakukan tidak sah karena Nabi saw. memerintahkan dalam jual beli emas dan perak harus secara serah terima langsung. Kecuali jika cek tersebut telah mendapat pembenaran (pengesahan) dari pihak bank dan penjual tersebut berhubungan dengan bank dan mengatakan , “Saya titipkan uang tersebut di Bank Anda.” Ini adalah bentuk rukhshah (kemurahan). Wallahu’a’lam.

2.  Membeli dengan Dirham

Syeckh Muhammad Shalih al ‘Utsaimin ditanya, “Bagaimana hukumnya menyerahkan (menjual) emas sebelum menerima pembayaran? Akad tersebut terjadi antara saya dengan kerabat saya. Saya takut jika minta pembayaran secara langsung akan memutuskan hubungan kekerabatan kami dengan saya mengetahui dan meyakini dia akan membayarnya suatu saat nanti?”

Jawaban : Anda harus mengetahui kaidah umum, yaitu menjual emas dengan dirham tidak dibolehkan kecuali dengan pembayaran secara tunai, baik akad tersebut dilakukan dengan saudara dekat maupun jauh. Karena agama Allah tidak memberi kesukaran kepada siapapun. Apabila saudara Anda marah karena Anda melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Biarkanlah dia marah. Dia adalah orang yang zalim dan berdosa yang mengajak Anda melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT. Sebenarnya Anda telah berbuat kebaikan saat Anda menolak diajak melakukan muamalah yang haram. Apabila saudara anda marah atau memutus tali kekeluargaan karena alasan diatas maka dia telah berdoa dan Anda tidak mendapat bagian dari dosa tersebut.

3. Gadai Emas

Syeikh Muhammad Shalih al ‘Utsaimin ditanya, “Bagaimana hukumnya pedagang yang mengambil emas sebagai ganti emas lain yang akan dipasarkan oleh pembeli , dimana emas yang diambil pedagang tersebut sebagai gadai (jaminan) sampai pembeli mengembalikan emas lain yang dibawanya, sementara akad tersebut harus ada perbedaan bobot antara emas yang diambil pembeli dan yang digadaikan”.

Jawaban : Hal tersbut tidak apa-apa, selama pedagang tidak menjual emas tersebut kepada pembeli. Dalam akad tersebut pembeli berkata, “saya gadaikan emas ini kepadamu, selama aku pergi dan memasarkan emas milikmu, setelah aku kembali, barulah kita melakukan akad jual-beli.” Setelah pembeli itu kembali dia membeli emas yang diambil dari pedagang dengan pembayaran tunai dan mengambil emasnya yang di gadaikan kepada pedagang tersebut.”

4. Emas bergambar

Syekh Muhammad Shalih al ‘Utsaimin ditanya, “Bagaimana hukumnya menjual emas yang terdapat gambar atau lukisan seperti gambar kuda, kepada ular dan lain sebagainya?”

Jawaban : Perhiasan yang terbuat dari emas dan perak yang didalamnya terdapat gambar binatang haram untuk dijual, dibeli , dipakai dan haram juga diambil atau dimiliki, karena bagi kaum muslimin wajib untuk menghancurkan dan menghilangkan gambar tersebut.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abi Hiyaj r.a. Bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. Berkata kepadanya, “Ingatlah, aku mengutus kepadamu apa yang diutus oleh Rasulullah kepada ku yaitu janganlah engkau meninggalkan gambar kecuali menghancurkannya dan janglah meninggalkan kuburan yang dibangun atau ditinggikan kecuali meratakannya,” Dalam hadits lain Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar (lukisan).”Karena itu, kaum muslimin wajib menjauhkan diri dari memakai perhiasan tersebut dan memperjualbelikannya.

5. Menukar emas lama dgn baru

Syekh Muhammad Shalih al-Utsaimin ditanya,”Ada seorang pembuat perhiasan menerima emas yang telah dipakai dengan harga 30 real dan menjual emas baru dengan harga 40 real, bagaimana hukumnya?”

Jawaban : Tidak dibolehkan menukar emas yang jelek dengan emas yang bagus yang memberi selisih harga. Hal tersebut hukumnya haram sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Bukhari Muslim tentang kisah Bilal r.a. Ketika dia datang kepada Nabi saw. Dengan membawa kurma yang bagus. Lalu Nabi bertanya,”Dari mana kurma ini”“Bilalal menjawab,” Saya mempunyai kurma kualitas jelek, lalu saya menukarkan dua sha’ kurma tersebut dengan satu sha’ kurma kualitas bagus.” Kemudian Nabi berkata, “ Jangan lakukan hal itu, itu adalah riba, itu adalah riba.”

Dalam hadist tersebut Nabi Saw. Menjelaskan bahwa memberi tambahan terhadap dua hal yang seharusnya sepadan karena ada perbedaan sifat, termasuk riba dan tidak boleh dilakukan.

Tetapi Nabi Saw. Sebagaimana biasanya memberi solusi cara yang benar untuk dilakukan. Nabi Saw. Menganjurkan agar kurma yang jelek tersbut dijual dengan beberapa dirham, kemudian dirham tersebut digunakan untuk membeli kurma kualitas bagus.

Berdasarkan dari hal tersebut menurut kami, apabila seseorang wanita mempunyai perhiasan emas yang sudah jelek atau sudah tidak terpakai, hendaklah dia menjualnya di pasar, lalu uang penjualan tersebut digunakan untuk membeli perhiasan emas yang baru, sebagaimana cara yang telah diajarkan oleh Nabi Saw.

6. Menukar emas murah dengan mahal

Syekh Muhammad Shalih al-Utsaimin ditanya,”Apabila seoarang menjual perhiasan kepada tukang pembuatnya dan kemudian membeli( menukarkan ) dengan perhiasan lain dengan harga lebih mahal dari yang pertama, bagaimanakah hukumnya?”

Jawaban: Masalah ini perlu penjabaran. Dari riwayat ‘Ubadah bin Shamit r.a, Nabi saw. Bersabada,”(Dibolehkan menjual) emas dengan emas dengan sama, dan serah terima langsung.”

Apabila seorang menjual emas dengan emas meskipun misalnya slah stunya berukuran 18 karat dan yang lainnya berukuran24 karat, maka harus sama timbangannya dan dilakukan dengan cara serah-terima langsung sebe kedua belah pihak berpisah. Apabila seorang wanita ingin menukarkan perhiasannyabaik kepada pembuat emas maupun kepada wanita lainnya, maka timbangannya harus sama dan dilakukan serah terima langsung sebelum berpisah.

Jika ada seorang perempuan datang ke pembuat perhiasan dan menjual perhiasannya kepadanya dan membeli perhiasan darinya yang lain, maka ada kalanya hal itu dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak, yakni misalnya perempuan itu berkata” saya akan mejual perhiasanku kepadamu dengan harga 10,000 lalu saya memebli perhiasan lain darimu dengan bobot lebih rendah.” jika hal itu dilakukan dengan adanya kesepakatan sebelumnya(kompromi) maka tidak di bolehkan, karena akad jual beli yang dilakukan hanya sekadar gambaran( bentuk luar ) saja, sedang tujuannya adalah perantaraan kepada keharaman.

Apabila antara kedua belah pihak todak ada kompromi, permpuan itu menjual perhiasannya dan mendapat uang lalu kembali lagi untuk membeli perhiasan yang dia inginkan, maka tidak apa-apa. Dalam ini menurut Imam Hmad, contoh yang dibolehkan adalah setelah perempuan tersebut menjual perhiasannya kepada pembuat perhiasan yang dia inginkan dipasar, dan ternyata yang mempunyai perhiasan yang diinginkan hanya orang tersebut, maka dia kembali kepadanya dan membeli perhiasan yang diinginkan. Contoh Imam Ahmad tersebut adalah sebagian cara yang dibolehkan agar dalam jual-beli yang dilakukan tidak terjadi penipuan.

Berangkat dari penjabaran tersebut, jawaban kami terhadap pertanyaan diatas adalah bahwa diantara kedua belah pihak tidak ada kompromi atau kesepakatan sebelum akad, yaitu dia menjual perhiasan kepada pembuat perhiasan dan telah menerima pembayaran, kemudian dengan uang pembayaran tersebut dia memebeli perhiasan dari orang tersebut yang bobotnya lebih rendah, maka hal tersebut dibolehkan. Begitu juga dibolehkan jika perempuan tersebut membeli perhiasan lain yang bobotnya lebih berat dengan penambahan pembayaran. Tetapi yang lebih utama sebagai mana menurut Imam Ahmad, sebaiknya perempuan tersebut terlebih dahulu mencari perhiasn yang dia inginkan dipasar dan apabila dia tidak menemukannya, barulah kembali kepada pembuat perhiasan tersebut.

7. Gadai emas

Syeikh Muhammad Shalih al ‘Utsaimin ditanya, “Bagaimana hukumnya pedagang yang mengambil emas sebagai ganti emas lain yang akan dipasarkan oleh pembeli , dimana emas yang diambil pedagang tersebut sebagai gadai (jaminan) sampai pembeli mengembalikan emas lain yang dibawanya, sementara akad tersebut harus ada perbedaan bobot antara emas yang diambil pembeli dan yang digadaikan”.

Jawaban : Hal tersbut tidak apa-apa, selama pedagang tidak menjual emas tersebut kepada pembeli. Dalam akad tersebut pembeli berkata, “saya gadaikan emas ini kepadamu, selama aku pergi dan memasarkan emas milikmu, setelah aku kembali, barulah kita melakukan akad jual-beli.” Setelah pembeli itu kembali dia membeli emas yang diambil dari pedagang dengan pembayaran tunai dan mengambil emasnya yang di gadaikan kepada pedagang tersebut.”

8.  Menjual saat harga tinggi

Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ditanya, “ seseorang membeli emas batangan seharga 200 dinar lalu disimpan untuk beberapa waktu sampai harga emas naik, kemudian dia menjual emas tersebut dengan harga 3.000 dinar, bagaimana kah hukum tambahan harga tersebut?”

Jawaban :”Bertambahnya harga tersebut tidak apa-apa. Banyak sekali kaum muslimin yang melakukan cara tersebut dalam jual belinya. Mereka membeli barang dagangan dan menanti naiknya harga barang tersebut. Misalnya : mereka membeli barang untuk mereka pergunakan sendiri kemudian ketika harganya naik tajam dan mereka mempunyai kesempatan untuk menjualnya, maka mereka menjual barang tersbut dan sebelumnya mereka tidak mempunyai niat atau rencana untuk menjualnya sebelum kenaikan harga tersebut. Yang terpenting adalah naiknya harga tersebut sesuai dengan harga pasaran, maka tidak apa-apa meskipun harga tersebut naik berlipat ganda.

Namun demikian jika harga emasnya misalnya, karena sebagai ganti atau penukar dengan emas yang lain dan membayar harga berlebih dari emas yang lain, maka hukumnya haram, karena dalam jual beli emas dengan emas harus sama timbangannya dan dilakukan serah terima langsung, sebagaimana dijelaskan dalam hadist Nabi Saw.

Apabila Anda menjual emas dengan emas meskipun berbeda kualitasnya, yakni yang satu lebih bagus dari yang lain, maka harus sama ukurannya dan timbangannya serta dilakukan dengan serah terima langsung. Misalnya menjual emas dengan ukuran 18 karat seberat dua mitsqal dengan emas lain dengan ukuran 24 karat seberat 1,5 mitsqal , maka ini tidak dibolehkan dan hukumnya haram, karena keduanya harus sama dan sepadan. Apabila Anda menjual emas seberat dua mitsqal dengan meas yang berat dan ukurannya sama namun salah satunya tidak diserahterimakan secara langsung maka juga tidak dibolehkan karena harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat akad.

Begitu juga dalam jual beli emas dengan mata uang perak. Apabila seseorang membeli emas dari pedagang atau pembuat perhiasan, maka dia tidak boleh pergi (berpisah) sebelum membayar pembeliannya secara penuh (lunas), karena mata uang perak sama dengan perak, dan jual beli emas dengan perak disyaratkan harus serah terima langsung sebelum kedua belah pihak berpisah. Berdasarkan sabda Nabi saw,”Maka jika barang-barang tersebut berbeda jenis, maka juallah sesukamu, asalkan tunai dengan tunai”.

Artikel fiqh jual beli emas ini diambil dari buku Fiqh al Bay’ wa asy syira’ ( judul terjemahan Fiqh Jual Beli: Panduan Praktis Bisnis Syariah) dan diunduh dari situs   Mohamad Ihsan Palaloi, penulis buku KEMILAU INVETASI EMAS.

5 Comments leave one →
  1. hairul permalink
    April 13, 2011 10:56 am

    asalamualaikum,
    ustaz, saya ingain bertanyakan mengenai akad jual beli emas. bgaimanakah cara dan lafaz akad jual beli emas tersebut.

    jazzakallah

    • hairul permalink
      April 13, 2011 10:59 am

      mohon saper2 respon pada persoalan ini yer…

      • April 22, 2011 4:16 pm

        Aqad jual beli tidak harus di lafadzkan antara pembeli dan penjual. Jadi tidak ada lafadz kusus. Sebagaimana kita belanja di supermarket, tidak perlu ada lafadz saat kita membayar dan mengambil barangnya. Contoh lain, kita beli minuman di vending machine. InysaAllah halal/boleh hukumnya. Wallahu a’lam.

  2. fulan permalink
    May 12, 2012 8:35 pm

    ane mu nanya akh bagaimana dengan penjualan emas lwt online?
    kan tidak terjadi langsung, tu gmn mohon penjelasannya

    • May 13, 2012 11:28 am

      aqadnya setelah barang dan uang diterima masihng2 pihak. Klo ada ketidakcocokan, masih boleh khiyar/pembatalan.
      wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: