Skip to content

Arisan Dinar: Menabung, Da’wah dan Silaturrahim

December 23, 2009
tags:
by

Setelah bisa menghadirkan koin “da’wah” Dinar Islam ke Jepang, muncullah gagasan lain untuk lebih mensosialisasikan uang Dinar tersebut agar bisa lebih mudah dimiliki oleh umat, yakni melalui Arisan Dinar.

Arisan merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita, yaitu sebuah bentuk monthly social gathering antar teman atau saudara dengan mengumpulkan sejumlah uang secara kolektif untuk dimenangkan oleh salah satu anggotanya secara bergiliran melalui undian.

Dilihat dari sisi syariah, bolehkan arisan itu dilakukan?

Istilah arisan sering digunakan untuk beragam bentuk transaksi keuangan. Dari yang hukumnya halal hingga yang haram. Jadi untuk mengetahui hukumnya, perlu diartikan dulu sesuai dengan berbagai bentuk dan sistemnya. Karena itu perlu diklarifikasi dahulu, bagaimana bentuk arisan yang dibolehkan dalam Islam.

Namun barangkali yang umum kita tahu bersama tentang arisan adalah bentuk arisan RT atau arisan ibu-ibu. Misalnya ibu-ibu  sepakat untuk mengadakan arisan sebulan sekali. Ada 10 orang anggota dan masing-masing membayar ¥ 1000 tiap arisan. Dan sejak awal sudah ditentukan bahwa pertemuan arisan kita ini sebanyak 10 kali sesuai dengan jumlah anggota. Lalu tiap bulan dikocoklah nama-nama anggota. Yang muncul namanya berhak untuk mendapatkan uang sebanyak ¥ 1000 x 10 orang = ¥10.000. Bulan depan, mereka berkumpul lagi dan melakukan hal yang sama, kali ini, yang namanya sudah pernah keluar tidak akan mendapat lagi. Dan begitu seterusnya hingga habis 10 kali arisan.

Model arisan seperti ini sama sekali tidak ada unsur judi, penipuan, pemerasan atau untung-untungan. Karena pada hakekatnya semua uang akan kembali lagi kepada pemiliknya. Tidak ada satu pun pihak yang dirugikan atau diuntungkan. Kalaupun ada istilah ‘menang arisan’ maka sebenarnya dia tidak menang, hanya saja dia sedang mendapat giliran menerima uang arisan. Nanti pada kesempatan berikutnya, orang lainlah yang akan mendapat giliran. JAdi pada hakikatnya tidak ada isitilah menang dan kalah, yang ada dapat giliran atau tidak. Sedangkan bentuk arisan yang lain lagi, maka perlu dijelaskan dulu bagaiman ketentuan dan bentuknya, barulah kita bisa tahu apa hukumnya dalam pandangan Islam.

Kriteria Arisan yang dibolehkan

Arisan yang dibolehkan adalah bila memenuhi kriteria berikut :

  1. Semua peserta arisan melakukannya dengan niat yang baik dan tulus, sehingga tidak mungkin mangkir dari kewajibannya ketika sudah pernah mendapat giliran atau istilahnya menang.
  2. Semua dilakukan atas dasar ridha dan kerelaan bukan paksaan atau karena tekanan dari pihak tertentu, karena pada hakikatnya arisan itu adalah hadiah bergilir yang telah disepakati sebelumnya.
  3. Hendaknya dalam mengikuti arisan tidak dengan memaksakan diri sehingga menghabiskan dana yang lebih perlu untuk dikeluarkan.
  4. Tidak boleh dilakukan praktek-praktek ribawi, penipuan, penggelapan, penilepan dan hal-hal yang dilarang syariat.
  5. Acara yang digelar dalam arisan itu harus mengacu kepada etika dan akhlaq Islam, juga bukan sekedar berhura-hura dan menghamburkan uang atau pamer perhiasan dan kekayaan. Juga harus dihindari semua perbuatan yang termasuk dilarang seperti ghibah (membicarakan aib orang lain), fitnah, issu, gossip, hasad, dengki, riya`, sum`ah dan sejenisnya.
  6. Sebaliknya acara itu hendaknya punya nilai positif seperti untuk mempererat silaturrahim dan persaudaraan di antara peserta, atau forum komunikasi dan diskusi yang bermanfaat, diisi pengajian atau liqo, dan lain sebagainya.
  7. Bila ada perselihisan dalam pengelolaan harus diselesaikan dengan cara yang sebaik-baiknya, bukan dengan dengan cara yang buruk dan memutus hubungan.

Bila hal-hal tersebut sudah dilakukan, maka inysaAllah menyelenggarakan arisan menjadi suatu kebaikan. Berikut kebaikan yang bisa diperoleh dari arisan:

  1. Arisan merupakan cara lain utk menabung. Karena kebanyakan orang yg belum terbiasa menabung tak akan menabung tanpa ada dorongan yang kuat. Nah, dg mengikuti arisan orang itu tidak bisa tidak harus membayar/iuran sejumlah uang yang telah disepakati. Dan pada akhirnya tsb akan memperoleh kembali total uang yg telah dibayar pada arisan.
  2. Arisan juga sama dengan hutang dari pihak kolektif, karena penerima undian seakan berhutang kepada semua peserta yang ikut dalam arisan tersebut. Disini, dituntut adanya tanggung jawab sosial kepada peserta lain dan melatih bersikap jujur, disiplin tepat waktu dan mempercayai orang lain.
  3. Di sisi lain, dalam arisan ada unsur saling menolong dari satu kelompok kepada masing-masing anggotanya. Tolong menolong diperintahkan al-Qur’an: “Bertolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (al-Maidah:2).

Hanya saja yang perlu diterapkan dalam arisan ini adalah nilai keadilan, yaitu masing-masing anggota mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sama untuk mendapatkan undian dan masing-masing harus sama jumlah pembayarannya. Demikian juga masalah biaya administrasi dan lain-lainnya seperti biaya pesta yang biasanya diadakan pada saat arisan harus menggunakan asas ini, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Karena itulah, bagi sebagian orang, arissan sangat membantu utk mewujudkan cita-cita yang mungkin sulit tercapai tanpa usaha kolektif dari sejumlah orang. Misalnya untuk pergi haji, seseorang harus memiliki uang cash sekitar 35 juta. Bagi seorang pegawai yang bisa menabung perbulan 1 juta, tentu perlu waktu hampir 3 tahun untuk bisa naik haji, itu pun kalau ONH tidak berubah naik. Namun dengan sistem arisan, maka cita-cita naik haji inysaAllah bisa terwujud dengan mudah. Demikian juga untuk pembiayaan lainnya seperti arisan alat-alat rumah tangga, arisan motor, dll.

Arisan Dinar

Harga Dinar sekarang ini sudah mencapai Rp. 1,5 juta per kepingnya atau sekitar ¥15,000, tentunya ini kendala bagi yang ingin memiliki dinar namun dana terbatas. Dengan kondisi seperti ini ARISAN DINAR bisa menjadi solusi untuk memiliki Dinar Emas.

Konsep dasar Arisan Dinar ini mengambil konsep arisan umum, namun sebagai dasarnya bukan nilai mata uang kertas. Yang menjadi dasarnya sendiri adalah Dinar Emas. Satu Grup arisan terdiri dari misalnya 4 orang anggota, masing-masing anggota iuran sebesar ¼ Dinar tiap bulan selama 4 bulan.

Dari konsep ini akan memunculkan pertanyaan, apakah adil jika tidak didasarkan kepada uang kertas? Karena iuran tiap bulan akan berbeda dikarenakan harga beli Dinar yang berbeda. Bisa jadi bulan ini iuran sebesar  ¥3500 namun bulan depan ¥ 3700. Apakah konsep seperti ini adil ?

Justru di sini letak keadilannya, karena uang kertas hanya sebagai alat tukar transaksi yang sangat rentan tergerus oleh inflasi. Kita contohkan saja dengan uang yang kertas RUPIAH sebesar Rp. 100.000 di awal tahun 2009 dan Rp 100.000 di akhir tahun 2009. Daya beli di awal tahun 2009 tentu akan lebih baik dibandingkan dengan akhir tahun. Jadi yang dapat arisan di awal dengan uang kertas akan lebih baik daya belinya dibandingkan dengan yang dapat di akhir periode arisan.

Bagaimana dgn uang YEN? Sama saja, karena daya beli YEN juga menurun dan rentan terhadap inflasi seperti dalam tulisan sebelumnya ini dan juga data dari Kitco. Berbeda dengan Dinar Emas, nilai 1 Dinar akan tetap 1 Dinar sampai kapanpun, insyaAllah.

InsyaAllah dengan arisan dinar ini, nilai-nilai positif akan diperoleh seperti bisa menabung, proteksi harta dari inflasi, silaturrahim, kerjasama (ta’awun), disiplin, tanggung jawab, dan lain-lain. Mudah-mudahan langkah ini menjadi solusi dan akan membawa manfaat bagi semua orang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: