Skip to content

Transaksi Ribawi

January 29, 2011
by

Dinar, sebagaimana  mata uang, termasuk barang ribawi. Olehkarena itu transaksi tukar menukar  dinar atau emas dengan uang disyaratkan kontan/tunai/tidak boleh berhutang atau tidak boleh terjadi penundaan pembayaran/penyerahan salah satu barang yang dipertukarkan atau kedua-duanya. Bila terjadi penundaan, maka terjadi riba nasi’ah. Riba nasi’ah adalah riba yang terjadi karena adanya pembayaran yang tertunda pada akad tukar menukar dua barang yang tergolong komoditi ribawi (emas, perak, kurma, gandum dan garam), baik satu jenis atau berlainan jenis dengan menunda penyerahan salah satu barang yang dipertukarkan atau kedua-duanya. Riba nasi’ah juga disebut riba jahiliyah. Riba ini adalah riba yang paling berbahaya dan paling diharamkan.

Contohnya adalah barter emas. Misalnya gelang emas 24 karat ingin dibarter dengan kalung emas 21 karat dengan timbangan yang sama. Akan tetapi emas 24 karat baru diserahkan satu hari lagi setelah transaksi dilaksanakan, maka haram hukumnya. Ini yang dimaksud riba nasi’ah karena sebab adanya penundaan.  Contoh lainnya pembelian/penukaran dinar emas dengan uang, maka tidak boleh ada penundaan.

Olehkarena itu, agar terhindar dari riba nasi’ah, maka disyaratkan penyerahan barang terlebih dahulu sebelum aqad dimulai. Sejumlah uang yg telah disepakati (berupa janji beli tapi bukan aqad) harus sudah dikirim terlebih dahulu ke rekening kami, lalu kami kirimkan dinar ke akun Anda. Setelah semuanya dengan ridho menerima jumlah yang sesuai dengan yang disepakati tadi, salah satu pihak menelpon untuk ijab qobul pembelian/penjualan dinar emas secara tunai.

ONH Makin Murah dengan Dinar

January 28, 2011
tags: ,
by

Ongkos Naik Haji dalam rupiah terus naik setiap tahun. Tahukah anda, dalam Dinar justru terus menurun. Perhatikan data berikut ini.

ONH dalam Rp :

1970 = Rp 182.000.
1988 = Rp 4.780.000
1998 = Rp 8.805.000
1999 = Rp 21.500.000

2008 = Rp 32.400.000.
2010 = Rp 34.000.000

 

ONH dalam Dinar :

1997 (sebelum krisis) : 97 Dinar
2000 = 70 Dinar
2003 = 50 Dinar
2007 = 30 Dinar
2010 = 22 Dinar

2011 = 19 Dinar (?)
Mau Haji/ Umroh ? Menabunglah dalam Dinar.

Sumber:
Mastour Tour & Travel

 

Pilih mana, tabungan m-dinar atau coin dinar?

April 30, 2010

Untuk menyimpan uang kita dalam dinar, bisa dilakukan dalam bentuk tabungan m-dinar atau pun bisa juga disimpan dalam bentuk fisik koin dinar emas.

Secara singkat berikut perbandingannya.

Tabungan m-dinar memiliki beberapa kemudahan antara lain:

  • Fleksible, tidak perlu bawa2 uang atau fisik koin dinar emas saat pulang ke Indonesia
  • Mudah diperjualbelikan ke orang lain sesama pengguna M-dinar atau dijual kembali ke agen.
  • Aman dari pencurian atau kehilangan
  • Dapat sewaktu2 diambil fisiknya berupa koin emas dinar atau dicairkan bila membutuhkan uang baik dalam Rupiah atau Yen.
  • Prinsip kerjanya seperti tabuangan biasa, dgn agen2 GD seperti GDJ sebagai mesin ATM nya utk ambil uang atau menabung.
  • Ada bagi hasilnya (bukan bunga)

Read more…

Mengalahkan Inflasi, Insyallah Kita Bisa…

March 15, 2010
by
Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 15 March 2010 08:32
Dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.”

Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahan assetnya dalam bentuk uang – tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi.

Dalam Islam, produksi sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas – berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi – dus menyebabkan inflasi – adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya.

Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi – kalau saja mereka mau !. Read more…

Penjelasan Harga Dinar GDJ

February 15, 2010

Ada best practice untuk berdagang yang sangat baik dari khasanah Islam, yaitu kesetaraan informasi antar pelaku pasar.
Kalau di dunia perdagangan barat dikenal istilah caveat emptor / let the buyer beware yaitu biarkan pembeli yang hati-hati (penjual bisa seenaknya); maka dalam Islam ada keharusan bagi penjual untuk menjelaskan secara detil kondisi barang yang akan dijualnya, termasuk cacat-cacatnya bila ada. Dalam istilah ekonominya yang cukup mendekati (meskipun tidak sepenuhnya benar) adalah caveat venditor / let the seller beware atau biarkan penjual yang hati-hati.

Cara penentuan harga Dinar sendiri bukan rahasia, semua orang boleh tahu. Bahkan cara memperhitungkan harga ini Read more…

Likwiditas Dinar : Dimana Anda Bisa Menukarkan Dinar Anda …?

February 1, 2010
four layers Dinar LiquidityPertanyaan yang paling sering muncul dari masyarakat yang baru mengenal atau membeli Dinar adalah dimana menukarnya kembali ke Rupiah bila dibutuhkan dananya. Berikut adalah jawaban yang hampir selalu saya berikan – tergantung apakah penanya puas dengan jawaban pendek atau jawaban panjang.

Kita tahu (lewat penjelasan sebelumnya) bahwa Dinar adalah emas 22 karat seberat 4.25 gram, yang di Indonesia diproduksi langsung oleh produsen emas paling terpercaya yaitu Unit Bisnis Logam Mulia – PT. Aneka Tambang, Tbk (BUMN). Jadi baik bendanya maupun siapa yang memproduksinya sangat dapat dipercaya.

Sejak ribuan tahun lalu sampai sekarang seluruh peradaban manusia di muka bumi mengakui tingginya nilai emas ini. Beda dengan uang kertas yang hanya berlaku di negara/wilayah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Emas berlaku secara universal dan tidak mengenal istilah kadaluwarsa. Read more…

MENDAULATKAN DINAR DAN DIRHAM SEBAGAI MATA UANG TUNGGAL DUNIA ISLAM

January 28, 2010
MENDAULATKAN DINAR DAN DIRHAM SEBAGAI MATA UANG TUNGGAL DUNIA ISLAM PDF Cetak E-mail
Sunday, 20 April 2008
M. Shabri H. Abd. Majid
The IIUM Institute of Islamic Banking & Finance (IIiBF)
International Islamic University, Malaysia (IIUM)
E-Mail: mshabri@iiu.edu.my

Abstract

This paper highlights the superioties of Islamic gold dinar and silver dirham over the current paper money (fiat money). Many contemporary Islamic economists believe that dinar and dirham are a desirable alternative of money viewed from social, economic, politic and religious perpectives. The paper then focuses on both prospects and challenges faced by the Muslim countries in their efforts to return to dinar and dirham. At the initial stage of implementating dirnar and dirham, the current fiat money, dinar and dirham may coexist while a transition takes place gradually. The gradual implementation of dinar and dirham is aimed at avoiding shock to the economy. In addition, the Muslim efforts to return to dinar and dirham will be eased by the advancement of Information and Technology (IT) and internet. The paper finally discusses the transaction models of dinar and dirham. From these transaction models, it is found that a small bushel of the gold can support a large number of international transactions.
1. Pendahuluan
Kenapa setiap meningkatnya (appresiasi) nilai Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, maka ekonomi Indonesia dianggap sedang membaik? Sebaliknya, bila nilai Rupiah merosot (depresiasi), maka ekonomi Indonesia dianggap semakin labil. Apakah kepulihan ekonomi sesuatu negara pantas disandarkan pada naik-turunnya nilai uang mereka terhadap Dolar? Bagaimana kalau appresiasi Rupiah terjadi bersamaan dengan depresiasi Dolar, apakah masih memiliki implikasi yang sama? Tentu jawabannya tidak. Dengan kata lain, tatkala nilai Rupiah konstan, tetapi Dolar yang mengalami depresiasi—seolah-olah nilai Rupiah naik dengan sendirinya—maka menguatnya perekonomian Indonesia tidak dapat disandarkan pada naik-turunnya nilai Dolar. Jadi, mengukur tingkat kepulihan dan pertumbuhan ekonomi negara berdasarkan appresiasi atau depresiasi nilai uang domestik terhadap Dolar adalah suatu metode keliru.

Kenapa Dolar tidak bisa dijadikan tolok ukur kepulihan, kemakmuran dan juga pertumbuhan ekonomi? Read more…